Senin, 04 Maret 2019

Essai : Malas Musuh Utama Pelajar


Malas, sesuatu yang sudah tidak terdengar asing lagi dikalangan para pelajar. Seakan menjadi musuh utama yang melekat dan sulit dihancurkan. Sering kita temui alasan mengapa seorang siswa malas belajar, mereka menjawab bahwa belajar itu membosankan dan tidak menarik. Bermain game, handphone, dan video lebih membuatnya menarik dari pada belajar itu sendiri.
Lalu, sebenarnya apakah pengertian malas itu sendiri?
Malas adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak ingin melakukan aktivitas apapun. Sebuah keadaan dimana seseorang berada dalam kondisi kejenuhan. Dalam kondisi ini seseorang lebih menyukai sebuah kesenangan yang menurutnya lebih menarik dari pada kegiatan biasanya. Bahkan seseorang yang rajin pun terkadang merasa bosan dengan kegiatannya yang terus seperti itu dan berulang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seorang menjadi malas, diantaranya :
1.      Tidak memiliki sasaran hidup (cita-cita) yang jelas. Sasaran dan tujuan hidup merupakan salah satu yang membuat seseorang bertekad untuk meraihnya. Seseorang yang tidak memiliki tujuan maka ia juga tidak akan melakukan suatu usaha apapun karena dirinya sendiri juga tidak mengetahui apa yang diinginkannya.
2.      Tugas yang amat banyak. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika seorang pelajar memiliki tugas yang banyak, mendengar kata tugasnya pun kita sudah tidak suka. Sebuah pemikiran yang negatif akan tugas membuat kita merasa takut dan malas untuk mengerjakannya, karena diri kita berpikiran bahwa kita tidak bisa padahal kita sendiri belum mencobanya. Maka dari itu menunda-nunda sebuah pekerjaan hanya akan membuat diri kita semakin malas dan jika sudah begitu kita akan merasa menyesal.
3.     Mood, rasa malas juga bisa dipengaruhi oleh mood seseorang. Mood adalah perubahan intentsitas perasaan. Ada yang menyebutnya juga dengan istilah siklus kehidupan (life cylcle). Kemalasan semacam ini umum dialami oleh hampir semua manusia. Orang yang paling giat pun terkadang menghadapai saat-saat yang membuatnya merasa malas. Yang membedakan orang di sini bukan soal pernah dan tidak pernahnya, tetapi adalah apa yang dilakukan saat detik-detik buruk itu tiba, apakah menyusun strategi belajarnya atau menerima begitu saja.
Untuk menjadi seseorang yang sukses diperlukan kerja keras. Maka dari itu kita harus mengatasi rasa malas yang mendatangi kita demi masa depan kita yang lebih baik lagi. Rasa malas dapat tercipta dari diri kita sendiri, mungkin itu berasal dari kebiasaan atau bahkan muncul karena rasa tidak siap untuk menghadapi  sesuatu. Diri kitalah yang dapat merubah sifat malas itu, sebuah motivasi dapat sangat membantu kita dalam mengatasi rasa malas. Mulailah dengan menetapkan tujuan cita-cita, selalu berpikiran positif, dan mengerjakan sesuatu yang terjadwal dengan strategi. Jika diri kita menolak sifat malas tersebut maka sifat malas akan bersifat sementara, namun beda halnya jika kita malah membiarkan diri kita hanyut dalam rasa malas itu, mungkin itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel : Pelangi yang Datang Setelah Hujan (Prolog & Bagian 1)

Prolog “Acha Lestari binti Muhammad Ali” Namanya terukir rapi diatas batu nisan yang kini mulai nampak kusam. Ya, hari ini adalah ...