Prolog
“Acha Lestari binti Muhammad Ali”
Namanya terukir rapi diatas batu nisan yang kini mulai nampak
kusam. Ya, hari ini adalah tepat satu tahun kepergiannya. Sahabat terbaik yang
pernah ada dalam hidupku. Hari itu Aku sengaja datang berkunjung ke pusaranya,
sekedar untuk menyapa dan mendo’akannya.
~~
“Apakah salah jika kita menyalahkan seseorang bahkan takdir
sekalipun atas musibah yang menghampiri kita?”
Mungkin banyak diantara kita yang kadang menyalahkan orang lain
bahkan takdir sekalipun atas musibah yang kita jumpai dalam kehidupan. Sama
seperti Aku yang dulu menyalahkan takdir atas musibah yang menimpa keluargaku.
Aku yang masih labil akan kehidupan. Aku yang tidak mengerti akan rencana indah
Tuhan. Ya, itulah masa SMA-ku yang penuh suka duka. Masa-masa indah bersama
sahabat. Baiklah, Aku akan menceritakan Masa SMA-ku.
Bab
1
Tsania
Aku adalah Tsania Aleesha Wardani. Putri tunggal dari pemilik
bisnis real esteat yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Sekarang Aku berada
dimasa akhir kelas 2 SMA. Kehidupanku serba tercukupi bahkan lebih dari kata
cukup. Ayah adalah seseorang yang sangat rajin dan ulet, itulah yang membuat
Ayah menjadi sukses. Menururut Ayah kesuksekan itu perlu kerja keras, kita
harus menjemputnya bukan malah menunggunya tanpa usaha dan doa sebab Tuhan
tidak akan mengubah keadaan seseorang jika ia tidak mengubahnya sendiri dengan
berusaha. Salah satu kalimat favoritnya adalah “Man Jadda Wajada!” siapa yang
bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Ayahku memang sangat pantas menjadi
panutanku. Sedangkan Ibu adalah wanita yang sangat baik. Ibu selalu menjadi
penyemangat bagi keluarganya. Tiap pagi Ibu akan menyiapkan sarapan dan Ayah
akan mengantarkanku pergi ke sekolah.
“Sayang minum dulu susunya,” ucap Ibu kepadaku.
“Iya Bu,” kataku sambil berlari menghampiri Ibu.
“Tsania pamit ya Bu, ini udah siang nanti takut terlambat sekolahnya.
Assalamu’alaikum!” pamitku kepada Ibu.
Itulah kegiatanku tiap pagi, normal seperti kebanyakan
keluarga-keluarga lainnya. Namun bagiku, interaksi yang harmonis diantara keluarga
kami terasa sangat menyenangkan.
SMA Pemuda. Disinilah Aku sekolah. Sekolah yang cukup
megah dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap jika dibanding dengan
sekolah swasta lainnya. Dan disini juga Aku bertemu dengan teman-temanku.
Apa yang kalian bayangkan tentang sekolahku? Bagus? Yahh! Tentu
saja bagus. Namun kalian sama sekali tidak menyangka bahwa di sekolah yang
kalian sangka bagus itu hanya kelihatannya saja bagus. Bukannya Aku
menjelekkan sekolahku, tapi itu kenyataannya memang benar begitu. Di sekolahku
masih banyak praktek yang bisa dibilang sangat melanggar aturan pendidikan.
Contohnya saja masih adanya orang tua murid yang memberikan sesuatu yang besar
pada kepala sekolah agar anaknya bisa mendapat nilai bagus. Aksi bulliying masih
terjadi dan guru tidak dapat menghentikannya karena biasanya aksi tersebut
dilakukan oleh anak-anak yang orang tuanya memiliki peranan penting dalam kemajuan
sekolah. Sungguh, jika memang Ayahku tidak menyuruhku untuk sekolah di sekolah
yang dekat saja aku benar-benar tidak ingin sekolah disini.
~~
Tak kusangka kebahagiaanku akan pergi secepat ini. Takdir seolah
merenggut semuanya. Menyisakan secuil
kebahagiaan yang ada.
Kejadian itu bermula ketika sore hari. Ibu yang biasanya duduk
membaca berita di pojok bangku taman tak terlihat sedikitpun. Ya, Ibu kini
tengah lemas terbaring di ranjang rumah sakit. Ibu pingsan setelah mendadak
terkena serangan jantung. Dan kini kondisinya masih kritis di ruang ICU. Aku hanya bisa berdo’a untuk kesembuhan Ibu.
Sudah 3 hari Ibu berada disana. Dan kondisinya tetap sama, tidak
ada peningkatan. Bahkan dokter berkata bahwa kami harus siap menghadapi segala
kemungkinan yang terburuk. Benar saja, dihari ke-5 Ibu dirawat tiba-tiba
monitor detak jantungnya berbunyi menandakan detak jantungnya yang kini semakin
melemah. Dengan sigap para perawat langsung menangani kondisi yang terjadi pada
pasien.
“21 Juli 2018, Pukul 14.15. Pasien Aisyah Wardani telah meninggal.”
Perkataan dokter membuatku lemas dan tak sadarkan diri. Aku sangat tidak
menyangka Ibu akan pergi secepat itu. Aku benar-benar sedih, seolah ingin
memberontak menyangkal semua yang terjadi.
“Tsania, jangan sedih terus dong. Nanti Ibu sedih liat kamu. Kamu
harus mengikhlaskan kepergian Ibu mu, Nak.”
Ayah selalu mengingatkan dan menghiburku ketika aku termenung
meratapi kepergian Ibu. Ya, Ayahlah satu-satunya orang yang bisa menghiburku
dengan berbagai ceritanya yang sejenak mengalihkan kesedihanku. Walaupun Aku
tahu, hingga kini Ayah juga masih merasa sedih. Tapi, Aku sangat salut kepada
Ayah yang bisa menyembunyikan rasa sedihnya dihadapan semua orang.
Hari-hariku sangat terasa hampa. Tidak ada yang menyiapkan makan
atau sekedar bertanya akan kegiatanku di sekolah. Bahkan disekolah pun
teman-temanku menjauhiku. Aku tidak tahu mengapa mereka bersikap begitu.
~~
Ayah semakin sibuk dengan
pekerjaannya. Ayah berkerja dengan sangat keras. Aku tak tahu apa yang terjadi
dengan perusahaan Ayah. Karena bekerja terlalu keras tanpa istirahat yang
cukup, kondisi Ayah semakin menurun. Ayah jatuh sakit. Dan saat itulah Aku
mengetahui jika perusahaan Ayah sedang mengalami krisis. Tugasnya kini diambil
alih oleh orang kepercayaannya. Namun, siapa sangka setelah Ayah kembali
keadaan perusahaan semakin menurun. Secara perlahan namun pasti perusahaan yang
Ayah kelola mengalami kemunduran.
Kondisi tersebut mengharuskan Aku dan Ayah untuk menjual rumah.
Kami pindah menuju rumah yang lebih sederhana. Bagaimana dengan sekolahku? Aku
pindah ke sekolah negeri dekat rumah baruku. Ayah sangat merasa bersalah
kepadaku.
“Tsania, maafkan Ayah. Kamu jadi harus pindah sekolah.”
“Iya Ayah, Tsania gapapa kok. Asalkan Ayah baik-baik aja.”

Ditunggu lanjutannya
BalasHapusTerus berkarya
BalasHapusKeren mil
BalasHapusLanjutkan ππ»
BalasHapusLanjutkan ππ»
BalasHapus