Sabtu, 23 Februari 2019

Cerpen


Harapan
 “Semuanya telah rata,”ucapku pelan.
Pencarian itu membawaku ke kampung tempat tinggalku yang sebulan lalu dihantam oleh tsunami. Sangat sedih rasanya melihat tempat tinggalku yang kini telah hancur diterjang oleh tsunami. Berkeliling di sekitarnya mengingatkanku akan kenangan dan keindahan yang dulu ada di kampungku. Kenangan itu masih sangat jelas tergambar di ingatanku.
~~
Palu, sebuah kota yang tidak terlalu besar mempunyai julukan sebagai Kota 5 Dimensi karena hampir memiliki segalanya baik lautan, pegunungan, sungai, lembah, maupun teluk. Posisinya yang menyentuh garis khatulistiwa membuat kota ini cukup terik dengan curah hujan yang minim. Meski demikian, keindahan kota ini dapat memikat hati para wisatawan, dimana sepanjang mata memandang akan ditemukan lautan.
Di pagi hari biasanya banyak masyarakat lokal yang berkunjung untuk berendam ke pantai Kampung Nelayan. Pantai ini konon memiliki kandungan garam laut yang tinggi seperti di laut mati sehingga masyarakat sekitar meyakini berendam di pantai Kampung Nelayan baik untuk kesehatan. Dan di kampung inilah aku tinggal.
Naila Putri Ramadhani, itulah namaku. Aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Aku mempunyai adik bernama Nisa Dwi Rahma. Jarak usia kami cukup jauh sekitar 6 tahun. Kami tinggal berempat bersama Ayah dan Ibu. Ayahku adalah seorang nelayan yang pantang menyerah dan selalu bekerja keras untuk keluarganya. Ibuku merupakan ibu rumah tangga yang sangat perhatian kepada keluarganya. Keluargaku sangat sederhana, walaupun begitu kami sangat bahagia bisa tinggal bersama di Kampung Nelayan ini yang masyarakatnya sangat ramah.
~~
Jum’at, hari yang tak kusangka akan menjadi hari yang paling menakutkan. Hari dimana aku melihat wajah semua orang pucat ketakutan. Ya! Hari itu merupakan hari dimana terjadinya tsunami yang menjadi sejarah tak terlupakan bagiku.
Dan disinilah kisahku dimulai.
~~
 “Wushh!” suara ombak mengenai batu di tepi Pantai.
Matahari mulai menampakkan diri. Pagi itu cukup cerah. Siulan burung menambah keindahan pantai di pagi hari. Masyarakat kampung mulai melakukan aktivitasnya masing-masing. Para nelayan segera berangkat untuk melaut, termasuk Ayahku. Aku dan Nisa berangkat sekolah. Pagi itu berlalu dengan tenang seperti biasanya.
Hingga, siang itu tiba-tiba langit menjadi mendung seolah akan turun hujan. Namun sampai sore hari tidak terjadi hujan, padahal awan hitam sudah memenuhi langit. Sore itu pun semakin gelap. Desiran ombak yang semakin besar membuat semua orang cepat-cepat pulang ke rumah enggan melanjutkan melaut, takut jika terjadi badai.
“Cepat pulang!” ucap seorang nelayan dengan khawatir kepada temannya.
Semua nelayan pulang ke rumahnya termasuk Ayahku.
~~
Seperti biasanya setiap sore aku dan adikku akan bersiap untuk pergi mengaji ke Surau yang ada di dekat Pantai. Kami berangkat menggunakan sepeda antik Ayah.
“Nai cepatlah! Nisa sudah menunggu,” kata ibu kepada ku.
“Iya bu,” jawabku singkat.
“Assalamu’alaikum!” serempak kami pamit kepada Ibu dan Ayah yang baru pulang.
Tak perlu banyak waktu untuk sampai ke Surau, kini kami sedang duduk menunggu Guru mengaji. Sore itu hanya sedikit murid yang mengaji, mungkin karena cuaca yang mendung membuat mereka takut untuk keluar rumah.
Tidak lama kemudian Guru pun datang dan segera memulai mengajinya. Ditengah-tengah mengaji terasa getaran kecil disusul dengan sebuah genting yang melesat jatuh dari atap.
“Prak!” suara genting jatuh.
“Allahu Akbar!” ucap refleks salah seorang murid.
Semua orang kaget, saling menatap satu sama lain mengisyaratkan rasa khawatir akan terjadi sesuatu. Getaran itu semakin kencang membuat semua orang di dalam Surau pergi keluar dengan panik. Dan benar saja, segera setelah semua orang keluar dari Surau, bangunan kecil itu pun ambruk menimpa apa saja yang ada dibawahnya, termasuk sepeda antik Ayah.
“Gempa..!! Semuanya selamatkan diri, cepat pergi dari sini!” ucap salah seorang warga dengan terengah-engah.
Semua orang berlarian menjauhi pantai, menyelamatkan diri dari kemungkinan bencana susulan. Sambil berpegangan tangan Aku dan Nisa berlari secepat mungkin. Kami bertemu Ayah dan Ibu yang hendak menyusul kami ke surau. Kami harus berhati-hati karena gempa yang terjadi sangatlah kuat hingga membelah jalanan, meruntuhkan bangunan serta pohon yang dapat menimpa manusia yang berada disekitarnya.
Gempa telah berhenti. Semua orang mencari tempat yang aman. Kami berada di lapangan terbuka.  Tak lama kemudian terdengar teriakan salah seorang warga.
“Allahu Akbar! Iiitu....Lari......!!!” teriak seorang warga sambil menunjuk sesuatu.
Ternyata ombak besar berwarna hitam menghantam daerah sekitar dengan begitu cepat, menghanyutkan bangunan, kendaraan, dan apa saja yang dilaluinya. Semua orang berlarian ketakutan, saling bersahutan menyebut takbir dan dzikir yang terus menerus tak hentinya keluar dari mulut setiap orang yang saling berpegangan satu sama lain.
“Ini tsunami!” kata seorang warga.
“Tsunami?” tanyaku dalam hati,”ini TSUNAMI!” kataku kaget dalam hati. Aku ingat, baru saja kemarin aku belajar tentang bencana ini dan sekarang aku benar-benar mengalaminya. Aku tidak lagi memikirkan apa-apa, dalam hati aku terus berdo’a meminta keselamatan bagi kami semua. Mungkin seperti inilah hari akhir nanti bahkan lebih dari ini.
Saat semuanya berlari menyelamatkan diri aku dan Nisa terpisah dari Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu menjadi yang paling belakang, sementara aku dan Nisa berada jauh di depan mereka. Aku tak ingin terpisah dari keluargaku, tetapi gelombang ombak tersebut semakin mendekat ke arah kami. Aku dan Nisa kembali berlari. Tak berapa lama kemudian aku menoleh ke belakang tetapi aku tidak menemukan keberadaan kedua orang tuaku. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Tsunami itu sudah sangat dekat, aku dan Nisa berusaha berlari namun sayang gelombang air yang begitu besar dan cepat lebih dahulu menghantam kami. Aku berusaha untuk tetap bersama Nisa dan memegang tangannya. Arus ini terlalu besar kemudian menghanyutkan kami.
Ayah? Ibu? Bagaimana dengan orang tuaku? Aku hanya bisa terus berdo’a dalam hati semoga Allah menyelamatkan dan mempertemukan kami kembali.
~~
Tsunami sudah berhenti. Tim penyelamat dan bantuan medis sedang sibuk memberikan pertolongan.
“Ukhuk!” suara batukku saat sadar.
Perlahan-lahan aku mulai membukakan mata, silau membuatku menyernyitkan dahi.
“Alhamdulillah, aku selamat!” ucapku dalam hati.
Mata ini menelaah kesegala arah mencari-cari sosok adik yang sangat aku sayangi. Mataku berbinar menemukan sosok tersebut tepat berada di sampingku.
“Kak!” ucapnya lemah.
Hatiku lega dan senang mengetahui Nisa masih hidup. Tidak lama kemudian tim penyelamat datang dan membawa kami ke posko pengungsian.
~~
Saat kami sampai di posko pengungsian, kami langsung ditangani oleh tim medis dan kami diberi perawatan yang baik sehingga kondisi kami berangsur sehat kembali.
Semua orang berada di tempat pengungsian, termasuk kami. Suasana di tempat pengungsian sangat ramai. Orang-orang sibuk saling membantu. Saat tim penyelamat datang membawa korban selamat, dengan sigap tim medis menyambut tugasnya. Hingga Aku teringat dengan orang tuaku. Bagaimana keadaannya? Apakah mereka selamat?
Semua orang sedang menunggu kabar informasi keluarga mereka.
“Kak, dimana Ayah dan Ibu? Apakah mereka selamat?” tanya Nisa tiba-tiba kepadaku.
“Kita tunggu informasi dari pemerintah ya Nis! Semoga Ayah dan Ibu selamat!” jawabku kepada Nisa.
“Aamiin!” sahut Nisa.
Aku dan Nisa kembali meneruskan membantu Kak Nia yang sedang menyiapkan makanan. Kak Nia adalah tetanggaku di Kampung Nelayan. Ia menjadi panitia di pengungsian ini, rumahnya berada di samping rumahku. Saat tsunami terjadi Kak Nia sedang berada di Jakarta dan saat mendengar berita tsunami Kak Nia langsung pulang ke Palu  dan bertemu kami di pengungsian. Karena sudah lama tidak bertemu Nisa terus bertanya apa saja kepada Kak Nia dan sesekali bertanya kapan informasi keluarga selamat sudah ada. Dan dengan sabar Kak Nia menjawab pertanyaan Nisa.
Tiba-tiba raut wajah semua orang menjadi sendu, menggambarkan kesedihan melihat kantung-kantung jenazah yang dibawa oleh tim penyelamat. Merasa takut jika salah seorang keluarganya ada di dalam kantung tersebut. Aku dan Nisa mencoba melihat ke sana. Jeritan Nisa menyadarkanku jika Ia tidak lagi disampingku. Ternyata Nisa sudah berada di tempat kantung-kantung jenazah tadi. Ia lari bersama dengan Kak Nia menerobos masuk ke tempat kantung-kantung jenazah berada.
“Ibu..! Hiks..hiks..hiks!” suara tangisan Nisa.
Aku berlari menghampirinya.
 “Kak, kata Kak Nia ini jenazah Ibu,” ucapnya saat melihatku.
Aku terdiam sesaat, hatiku sangat sakit mengetahui kebenarannya. Tubuhku jatuh tersungkur lemas, tanpa kusadari pipiku sudah penuh dengan air mata yang mengalir deras. Nisa memelukku erat, menenangkanku.
“Kak, kata Kak Nia kalau kita nangis Ibu bakalan sedih, jadi jangan nangis lagi,” ucap polos anak berusia tujuh tahun itu.
Ucapan Nisa membuatku tertegun, memang kita harus ikhlas menerima kenyataan sekalipun itu sangat pahit untuk diterima.
“Iya Nis, cukup kali ini saja kita menangis,” balasku.
Aku meyakinkan diriku agar tidak berlarut-larut. Aku dan Nisa harus ikhlas menerina semuanya, dibalik semua ini pasti ada hikmah yang dapat kita ambil. Bagaimana dengan Ayah? Aku tidak tahu, semoga saja Ayah selamat dan kami dapat bertemu kembali.
~~
Tsunami yang terjadi telah menyapu daratan menjadi rata tak bersisa. Bangunan-bangunan yang megah tak luput diterjang oleh ganasnya ombak tsunami. Sarana dan fasilitas rusak, beribu orang menjadi korban. Jerit tangis banyak orang terdengar dimana-mana. Aku berharap tsunami ini akan menjadi yang terakhir. Semoga keadaan dapat kembali dengan normal secepatnya. Dan hingga saat ini aku belum bertemu dengan Ayah. Pencarian masih terus dilakukan. Walaupun jika nanti kenyataannya pahit aku akan ikhlas menerimanya. Aku hanya ingin bertemu dengan Ayah.

8 komentar:

Novel : Pelangi yang Datang Setelah Hujan (Prolog & Bagian 1)

Prolog “Acha Lestari binti Muhammad Ali” Namanya terukir rapi diatas batu nisan yang kini mulai nampak kusam. Ya, hari ini adalah ...